Pendengar Yang Baik….
Rasulullah adalah sosok manusia paripurna yang hampir sempurna dalam segala halnya. Salah satu kesempurnaannya adalah caranya dalam melakukan dialog dan menjalin komunikasi dengan kawan maupun lawannya. Kehebatan komunikasinya itulah yang dapat “menyihir” orang sehingga tertarik, kemudian mengikuti ajaran yang dibawanya.
Salah satu rahasia keberhasilan Rasulullah dalam berbagai dialognya adalah kesediaan beliau menjadi pendengar yang baik. Rasulullah tidak saja pandai berbicara, tapi juga pandai mendengar. Selain menjadi pembicara yang baik, beliau adalah pendegar yang sangat baik.
Kesediaan Rasulullah mendengarkan hingga tuntas pembicaraan orang merupakan cerminan akhlaq beliau yang sangat mulia. Dengan akhlaq mulia itulah Rasulullah menaklukkan hati orang, sehingga bersedia mendengarkan dan mempertimbangkan ajakannya.
Sebagai ummatnya tentu sangat baik jika kita meniru dan mempraktekkan gaya Rasulullah dalam berdialog dan berkomunikasi. Beliau tidak ingin mendominasi pembicaraan, sebab hal itu sama saja dengan serakah dalam urusan makan. Keduanya merupakan dua sikap yang dicela oleh Islam.
Muballigh atau da’i yang baik bukan, karena mereka yang hanya pintar berceramah, tapi mereka yang selain pintar berceramah, juga pandai mendengarkan pembicaraan orang lain. Banyak muballigh yang jika disuruh berceramah kuat berdiri berjam-jam, tapi jika disuruh mendengar ceramah orang lain beberapa saat saja pantatnya sudah kesemutan.
Sebagaimana yang dicontohkan Nabi, yang benar adalah banyak mendengar sedikit berbicara. Bukankah anggota tubuh kita sudah mengisyaratkan hal itu? Bukankah kita hanya memiliki satu mulut dan dua telinga? Artinya, perbandingan antara pembicaraan dengan pendengaran itu semestinya satu berbanding dua. Kenapa yang terjadi justru sebaliknya?
Kita harus belajar menjadi pendengar yang baik sebagaimana kita belajar menjadi pembicara yang baik. Sebagian dari sifat-sifat pendengar yang baik adalah memberikan kesempatan kepada pembicara menuntaskan pembicaraannya sampai sempurna, tidak memotong pembicaraan orang lain, walaupun didapati beberapa kesalahan di dalamnya.
Termasuk sifat pendengar yang baik adalah tidak banyak memberikan komentar dan jawaban, jika sekiranya tidak perlu. Jika terpaksa harus memberi komentar sebaiknya dipilih kata-kata yang bijaksana.
Filed under: Motivasi dan Inspirasi | 5 Comments
Tags: Artikel Islami, Pendengar yang baik, Suri Tauladan

lah tapi kalau nyingung hati gimana masak ngk ada respon
pasti raut muka berubah 180 derajatkan
jadi prinsip rasul emang berat buat dijalanin yah
Sebagai umat yang baik dan mencintai rasulullah, hendaknya kita mengikuti apa-apa yang dilaksanakan oleh beliau. Karen asesungguhnya itu merupakan sunnah rasul yang apabila dilakukan mendapatkan pahala!!!!
Khususnya di bula Ramadhan ini…
Ochey..friend!!??
setuju sekali dengan 2 paragraph terakhir
makasih ya dah singgah di blogku
subhanallah… pribadi Rasul emang yang terbaik, semoga kita menjadikan teladan dan juga mengamalkan keteladannya.
oia tulisannya makin mantap aja nafi..
senang bisa ketemu nafi di buka puasa kemaren
Salam Nafi’…Semoga sihat walafiat disamping menjalani ibadah puasa…Emmm entri yang bagus sekali…Saya sangat tertarik dengan perbahasan di atas…Ya..Kita sebagai uamat dan pengikut Nabi Muhammad SAW, hendaklah mengikuti segala sunnahnya agar kita benar-benar menjadi insan yang mencintai Rasulullah SAW….Mudah-mudahan kita semua mendapat syafaat baginda di akhirat kelak….
Selamat Berpuasa…
———————————-
Ikhlas dari :
Kalam Abu Musaddad
http://ibnismail.wordpress.com